Jejak Mahasiswa Bahasa Asing Terapan di Negeri Formosa: Perjalanan Alya dalam Menyelami Bahasa Mandarin dan Budaya Taiwan di NCUE Summer Camp 2025

Alya Syalaisha Nuriesta Dhafi mahasiswa Bahasa Asing Terapan yang memilih untuk memanfaatkan masa liburan semesternya untuk berpartisipasi dalam kegiatan mandarin summer course di Taiwan. Sebagai mahasiswa Bahasa Asing Terapan, Alya tidak pernah membayangkan bahwa langkah akademiknya akan membawanya hingga ke Negeri Formosa, Taiwan. Keinginan untuk memperluas wawasan budaya dan kemampuan bahasa asing akhirnya mengantarkannya untuk mengikuti kegiatan Mandarin Summer Camp 2025 di National Changhua University of Education (NCUE) sebuah program internasional yang membuka ruang pembelajaran lintas budaya dan memperkaya kompetensi multibahasa mahasiswa.

Meskipun fokus studinya berada pada penguasaan bahasa Jepang, program ini menjadi peluang baginya untuk memperluas kompetensi linguistik melalui pembelajaran bahasa Mandarin sebagai bahasa asing tambahan, sekaligus memperkaya perspektifnya terhadap keberagaman budaya Asia Timur.

Program yang berlangsung pada 3-16 Agustus 2025 ini memberikan pengalaman belajar yang intensif dan interaktif. Setiap hari, Alya mengikuti kelas bahasa Mandarin yang dikemas secara komunikatif melalui dialog praktis, latihan pengucapan, permainan bahasa, hingga sesi diskusi bersama mahasiswa NCUE yang berperan sebagai study buddies selama kegiatan berlangsung.

Selain mengikuti pembelajaran formal di ruang kelas, Alya juga banyak mendapatkan pengalaman belajar di luar lingkungan akademik. Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah saat berkunjung ke Lukang, sebuah kota tua di Taiwan yang dikenal dengan lorong-lorong tradisional, kuil-kuil bersejarah, dan nuansa budaya yang sangat kental. Selama berada di sana, Alya didampingi oleh study buddies dari NCUE yang mendorongnya untuk langsung mempraktikkan bahasa Mandarin dalam berbagai situasi. Ia diajak berbincang dengan para penjual, menanyakan informasi tentang barang, mencoba menawar harga, hingga sekadar meminta rekomendasi makanan khas daerah tersebut. Interaksi sederhana seperti ini justru menjadi bentuk pembelajaran yang paling nyata, mengasah keberanian sekaligus spontanitas Alya dalam menggunakan bahasa Mandarin dalam konteks sehari-hari.

Pada akhir rangkaian program yang bersifat intensif ini, para peserta tidak hanya mendapatkan materi komunikasi sehari-hari, tetapi juga diarahkan untuk mengukur capaian belajar melalui pelaksanaan ujian TOCFL (Test of Chinese as a Foreign Language). Ujian tersebut menjadi salah satu indikator untuk melihat sejauh mana pemahaman dan keterampilan bahasa Mandarin peserta setelah mengikuti proses pembelajaran.

Bagi seorang mahasiswa Bahasa Asing Terapan, pengalaman internasional ini menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi profesional. Alya belajar untuk lebih sensitif terhadap keberagaman budaya, berani berkomunikasi dalam lingkungan multinasional, dan membangun jejaring global yang akan berguna untuk masa depannya. Program ini tidak hanya memperkuat kemampuan linguistiknya, tetapi juga menumbuhkan kemampuan adaptasi dan berpikir global.